DEPARTEMEN KELOLA SOSIAL

A.  PROGRAM CSR 2019

  1. Service Jalan Kampung Simei – Kampung Dusner (Menghubungkan Jalan Kampung Simei dengan Kampung Dusner – Muandarisi)
  2. Gambar 1. Jalan Kampung Simei – Kampung Dusner sebelum perawatan

    Gambar 2. Jalan Kampung Simei – Kampung Dusner setelah perawatan bantuan PT. Wijaya Sentosa

    Pembangunan jalan lintas kampung yang menghubungkan kampung Simei dengan Kampung Dusner-Maundarisi (Distrik Kuriwamesa – Kabupaten Teluk Wondama) sepanjang ± 2.900 meter yang dibangun sejak tahun 2015 merupakan salah satu bentuk bantuan kepada masyarakat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan PT. Wijaya Sentosa. Dengan pembangunan jalan lintas kampung ini, memberikan kemudahan akses kepada masyarakat, termasuk kemudahan akses bagi masyarakat kampung Simei untuk dapat menuju ke Ibu Kota Kabupaten yakni Kota Wasior. Program CSR – Pembangunan jalan lintas kampung Simei – Dusner ini tidak hanya sampai pada tahap pembangunan jalan saja, pada tahun 2018 dan tahun 2019 telah dilakukan perawatan jalan sehingga jalan tersebut tetap dalam kondisi baik dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna menunjang kehidupan masyarakat.

  3. Pembangunan Gereja di Kampung Werianggi & Tamoge – Distrik Nikiwar – Kabupaten Teluk Wondama
  4. Gambar 3. Pembangunan Gereja Kampung Werianggi & Tamoge

    Di tahun 2019, perusahaan PT. Wijaya Sentosa melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) memberikan bantuan berupa pembangunan 1 (satu) unit gereja di Kampung Werianggi & Tamoge – Distrik Nikiwar – Kabupaten Teluk Wondama. Pembangunan gereja ini menjadi wujud kerja sama antara pihak perusahaan PT. Wijaya Sentosa dengan masyarakat adat Kampung Werianggi – Tamoge, dimana pihak perusahaan berkomitmen menyiapkan segala kebutuhan material untuk pembangunan gereja dan pengerjaan pembagunan gereja dilakukan oleh masyarakat adat secara gotong-royong. Pembangunan gereja ini masih dalam tahap pengerjaan, diharapkan bisa diselesaikan pada tahun 2020, sehingga dapat digunakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat kampung Werianggi dan Tamoge untuk beribadah.

  5. Demplot Pertanian Menetap
  6. Gambar 4. Pengenalan Pertanian Menetap melalui pembangunan demplot pertanian Bersama warga masyarakat setempat

    Program CSR – Demplot Pertanian Menetap digagas sejak tahun 2016. Melalui program ini, diharapkan masyarakat yang berada di sekitar areal PT. Wijaya Sentosa dapat memiliki tambahan penghasilan yang tetap, mengingat pola hidup mereka sebelumnya yang masih sekedar berburu memanfaatkan hasil hutan. Masyarakat di sekitar areal perusahaan sudah mengenal tentang pertanian, namun pola yang digunakan selama ini adalah perladangan berpindah. Mengingat daerah Papua Barat ini yang sebagian besar masih berupa hutan alam, sehingga pertanian menetap masih cukup sulit untuk diterapkan. Pertanian menetap ini merupakan program jangka panjang, dimana perusahaan akan melakukan pembinaan secara berkala. Target yang diharapkan adalah ketika masyarakat sudah mulai memahami bagaimana pola pertanian menetap yang baik dan intensif tanpa harus berpindah tempat dan membuka areal baru. Saat ini, program CSR- Demplot Pertanian Menetap telah dilaksanakan di Kampung Dusner – Muandarisi, Kampung Simei, KM. 02 untuk masyarakat Logpond Simei dan di Kampung Werianggi – Tamoge.

  7. Penguatan Kelembagaan Sosial Ekonomi Berbasis Gender melalui Pengembangan Kelompok Usaha Bersama Pedagang Sayur dan Ikan Tangkapan Masyarakat sekitar PT. Wijaya Sentosa
  8. Gambar 5. Suasana pasar bantuan PT. Wijaya Sentosa diramaikan aktifitas perniagaan Kelompok Usaha Bersama Masyarakat binaan PT. Wijaya Sentosa

    Keberadaan PT. Wijaya Sentosa di Camp Simei telah menjadi daya tarik dan mengundang perhatian dari para Ibu – Ibu untuk melakukan kegiatan perdagangan sayur hasil kebun dan pekarangan, serta ikan tangkapan dari hasil memancing kepada pihak perusahaan. Seiring berjalannya waktu, jumlah Ibu-Ibu pedagang semakin meningkat. Pengorganisasian pun dilakukan agar kegiatan perdagangan di lingkungan perusahaan menjadi lebih tertib. Kegiatan perdagangan digelar 2 (dua) kali dalam seminggu yakni hari Rabu dan Sabtu, Ibu-Ibu dibagi kedalam kelompok-kelompok sehingga dapat berjualan secara bergiliran. Perusahaan membeli sayur dan ikan yang dijual oleh Ibu-Ibu sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pengembangan untuk program ini dilakukan dengan mendirikan bangunan pasar semi permanen, sehingga setiap kelompok dapat menggelar lapak jualan di tempat yang lebih layak. Selain itu, pihak perusahaan juga membagikan baju seragam kepada masing-masing anggota kelompok sebagai identitas pada saat mereka mendapat giliran berjualan. Dengan peningkatan ini menjadi peluang untuk dikembangkan dan lebih diberdayakan sebagai kelompok-kelompok usaha bersama, yang harapannya merupakan sebagai persiapan berdirinya lembaga perekonomian yang lebih mapan, seperti koperasi dari kampung-kampung dalam areal pengusahaan hutan PT. Wijaya Sentosa.

  9. Program CSR – Pembinaan Kepemudaan & Olahraga
  10. Gambar 6. Kegiatan pembinaan kepemudaan dan olah raga

    Kegiatan Pembinaan Kepemudaan & Olahraga dilaksanakan melalui kegiatan untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia – HUT RI yang lebih lasim disebut lomba 17-an. Kegiatan ini dilaksanakan hampir setiap tahun di bulan Agustus dengan melibatkan seluruh karyawan PT. Wijaya Sentosa dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air. Selain itu tujuan dari kegiatan ini adalah membangun keakraban antara pihak perusahaan dalam hal ini karyawan dengan masyarakat sekitar sehingga dapat tetap terwujud kehidupan yang harmonis

  11. Next..

B.  KEGIATAN DEPARTEMEN KELOLA SOSIAL

  1. Ritual dan Syukuran Masyarakat Adat Pembukaan Operasional RKT (Sinara)
  2. Gambar 6. Ritual Sinara oleh Masyarakat Adat sebagai tanda perijinan operasional RKT dari Masyarakat Adat

    Masyarakat adat Papua kental dengan tradisi dan budaya. Kegiatan operasional PT. Wijaya Sentosa tidak bisa lepas dari tradisi dan budaya masyarakat sekitar. Penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Kegiatan Ritual & Syukuran Masyarakat Adat untuk memulai operasinal RKT (Sinara) menjadi salah satu wujud akan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat dan merupakan tanda persetujuan operasional RKT dari Masyarakat tersebut. Kegiatan Ritual & Syukuran Adat memulai RKT (Sinara) dilaksanakan sebelum RKT berjalan. Ritual Syukuran Adat memulai RKT (Sinara) dilaksanakan sesuai dengan tradisi adat dari masyarakat sekitar biasanya menyesuaikan dengan tradisi dari kampung pemilik hak ulayat dari RKT berjalan. Setiap kampung memiliki tradisi yang berbeda-beda. Ritual adat dilaksanakan dengan penyembelihan hewan kurban yang memiliki ciri khas khusus (babi hutan hitam atau ayam putih) yang mana darah dari hewan kurban tersebut akan di tanam dalam tanah bersama dengan pinang dan tembakau (rokok) yang diletakkan pada piring putih dan dibungkus dengan kain putih (note : tradisi ini berlangsung di wilayah Kuriwamesa - Papua Barat). Ritual ini dipimpin oleh Kepala Suku atau tetua (petuanan). Ritual adat ini bertujuan untuk meminta ijin kepada Yang Maha Kuasa sebagai pemilik alam semesta sekaligus meminta ijin kepada para leluhur sebelum melakukan kegiatan operasional dimana diyakini bahwa dengan proses ini maka segala kegiatan operasional akan berjalan dengan lancar dan terhindar dari mara bahaya.

  3. Pembayaran Kompensasi Hak Ulayat
  4. Gambar 7. Pembayaran Kompensasi Hak Ulayat

    Pembayaran Kompensasi Hak Ulayat setiap periodenya diserahkan secara tunai di depan umum atau di depan masyarakat adat yang disaksikan oleh Kepala Suku, Kepala Kampung, Kepala Distrik, dan atau pihak dari Kabupaten kepada pemilik hak ulayat. Pembayaran Dana Kompensasi Hak Ulayat ini disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah yang berlaku yakni Peraturan Gubernur Provinsi Papua Barat Nomor 5 Tahun 2014 tentang Standar Pemberian Kompensasi Bagi Masyarakat Adat Atas Kayu Pada Areal Hak Ulayat di Provinsi Papua Barat tertanggal 28 Februari 2014. Penyerahan Dana Kompensasi Hak Ulayat dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan (BAP) disertai kwitansi, yang ditandatangani pihak kampung pemilik hak ulayat (suku/marga) dan pihak perusahaan PT. Wijaya Sentosa dengan disaksikan oleh kepala suku, pihak distrik, dan atau pihak kabupaten.

  5. Sosialisasi Operasional Perusahaan Kepada Masyarakat
  6. Gambar 8. Masyarakat antusias mengikuti kegiatan Sosialisasi Operasional Perusahaan (RKT, CSR, Kawasan Lindung, Pengamanan Hutan dan lain-lain

    Kegiatan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan PT. Wijaya Sentosa. Kegiatan Sosialisasi menjadi bagian yang penting karena menjadi wadah untuk mendapatkan kesepahaman arah dan tujuan dari kegiatan operasinal perusahaan dengan masyarakat adat sekitar. Kegiatan sosialisasi terus dilaksanakan tiap tahunnya, mulai dari Sosialisasi Rencana Kerja Tahunan (RKT), Sosialisasi Rencana Kerja Program CSR, Sosialisasi Perlindungan & Pengamanan Hutan, Sosialisasi Kawasan Lindung, Sosialisasi Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu, dll.

  7. Peningkatan Keterampilan Masyarakat melalui Program Magang (On Job Training)
  8. Gambar 9. Program magang untuk peningkatan ketrampilan masyarakat setempat (perbengkelan dan pertukangan)

    Dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat sekitar untuk dapat memperoleh kesempatan dalam meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan di bidang perbengkelan (mekanik) dan perbengkelan, maka pihak perusahaan PT. Wijaya Sentosa berupaya mewujudkan keinginan masyarakat melalui program CSR dengan mengadakan kegiatan pelatihan yakni Magang Perbengkelan (Mekanik) & Magang Pertukangan. Program ini telah berjalan sejak tahun 2018. Pengenalan program dilaksanakan dengan sosialisasi kepada masyarakat di kampung – kampung. Program magang ini tidak memungut beban biaya dari masyarakat. Masyarakat yang ikut dalam program ini mendapatkan fasilitas tempat tinggal, konsumsi, tunjangan BPJS Tenaga Kerja dan Kesehatan, uang saku, seragam, APD serta sertifikat magang. Program Peningkatan Keterampilan Masyarakat ini menjadi salah satu wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan PT. Wijaya Sentosa kepada masyarakat sekitar dengan harapan bahwa dengan program magang ini, masyarakat dapat memiliki keterampilan secara khusus di bidang mekanik atau pun pertukangan yang nantinya dapat digunakan untuk membuka peluang usaha bagi masyarakat.

  9. Sekolah Alam Simei (Sekolah Informal)
  10. Gambar 10. Antusias anak-anak warga masyarakat setempat mengikuti Sekolah Alam Simei yang diselenggarakan PT. Wijaya Sentosa

    Pendidikan menjadi bagian yang penting bagi kehidupan masyarakat. Di Logpond PT. Wijaya Sentosa jumlah anak usia sekolah ± 30 orang. Untuk menempuh sekolah, anak-anak harus menggunakan akses laut dengan perahu atau longboat menuju kampung sebelah yang terdekat yakni kampung Sandey atau Kampung Dusner untuk bersekolah. Perjalanan laut dengan longboat dapat ditempuh selama 30 menit. Dalam seminggu, umumnya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan selama 5 hari, yaitu pada hari Senin hingga Jumat. Akses sekolah yang cukup jauh ini melatarbelakangi dibentuknya sekolah non formal bagi anak-anak sekitar Logpond Simei PT. Wijaya Sentosa melalui program CSR. Sekolah non formal ini diharapkan mampu memberikan pengajaran tambahan kepada anak-anak sekolah sehingga dapat membantu mereka dalam penyerapan materi yang diberikan di sekolah. Konsep yang diterapkan dalam setiap kegiatan sekolah non formal ini meliputi penggunaan alam sebagai tempat untuk belajar, alam sebagai media pembelajaran, serta alam sebagai objek pembelajaran. Penggunaan alam sebagai salah satu media belajar mengajarkan anak-anak untuk lebih peka terhadap lingkungannya dan lebih menyerap pengetahuan yang diperolehnya. Karena pengajar dalam program ini adalah karyawan PT. Wijaya Sentosa, maka jadwal kegiatan sekolah menyesuaikan dengan kondisi kerja karyawan. Kegiatan belajar berlangsung pada hari Minggu sore, 2 atau 3 kali dalam satu bulan. Selain kegiatan belajar, di sekolah ini pun dilaksanakan program CSR lainnya yakni Pemberian Makanan (Nutrisi) tambahan kepada Anak- Anak yang dilaksanakan secara periodik. Kami menyebut sekolah ini dengan sebutan Sekolah Alam Simei atau Sekolah Minggu Simei.