Sistem Silvikultur

Sistem silvikultur merupakan serangkaian kegiatan berencana mengenai pengelolaan hutan yag meliputi penebangan.peremajaan dan pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian fungsi produksi hasil hutan kayu dan hasil hutan lainya.

Pemilihan Benih dari pohon teridentifikasi sehingga didapatkan semai/bibit berkualitas

Skarifikasi benih untuk mempercepat pertumbuhan semai dan bibit yang dihasilkan lebih seragam

Pertumbuhan semai hasil skarifikasi benih merbau

Tujuan pemilihan dan penerapan sistem silvikultur  dalam jangka panjang adalah diperolehnya hutan secara ekologis dengan struktur tegakan yang stabil agar meningkatkan produktifitas hutan yang semakin tinggi baik kuantitas maupun kualitasnya secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan fungsi perlindungan dan sosial yang optimal sesuai kebutuhan masyarakat.

Terdapat beberapa parameter yang digunakan untuk penentuan sistem silvikultur dan setidaknya terdapat lima parameter yaitu :

  1. Kelestarian sumberdaya hutan, pendekatan yang dilakukan dengan cara meminimalkan kerusakan hutan dan yang bertujuan menjaga kelestarian fungsi produksi baik secara volume maupun terhadap jenis - jenis pohon yang ada (biodiversity).
  2. Kesesuaian dengan kondisi lokal, didekati dengan kondisi penutupan hutan, jenis tanah dan konfigurasi lahan / topografi.
  3. Kelayakan ekonomi, dicirikan dengan pemilihan sistem silvikultur yang mampu memberikan profil dan benefit yang terus menerus meningkat yang diinvestasikan kembali ke hutan sehingga modal berupa hutan mempunyai nilai yang meningkat.
  4. Dampak lingkungan minimum, pelaksanaan sistem silvikultur juga harus didukung dengan teknologi yang ramah lingkungan dan dalam aplikasinya berpedoman pada kaidah-kaidah Reduced Impact logging.
  5. Manfaat sosial yang optimal, penerapan sistem silvikultur diharapkan dapat memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi para share holder maupun stakeholder.